Kelangkaan Elpiji Meluas di Sulbar

Kompas.com - 08/02/2012, 17:06 WIB

SULBAR, KOMPAS.com - Kelangkaan elpiji 3 kilogram tdiak hanya meresahkan warga di wilayah kabupaten Polewali mandar, namun sudah meluas hingga ke kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat.

Sejak empat hari terakhir warga silih berganti mendatangi agen dan pangkalan termasuk warung pengecer untuk menukarkan tabungnya, namun mereka kecewa karena tak ada pengecer yang menjual.

Kelangkaan elpiji di Polewali Mandar sendiri sudah berlangsung lebih dari dua pekan terakhir, sebagian warga yang kesal karena kesulitan mendapatkan elpiji menjual tabung mereka untuk membeli minyak agar mereka bisa memasak.

Hingga kini pemerintah setempat belum turun tangan menyikapi sulitnya warga mencari gas elpiji. Anggota DPRD yang seharusnya getol menyuarakan kepentingan rakyat banyak tampak sepih. Pada hal masyarakat sudah tertatih-taih mencari elpiji meski hanya untuk kebutuhan memasak.

Dinas perindag Polewali mandar berjanji akan menggelar sidak ke sejumlah pangkalan dan pengecer elpiji khususnya tabung 3 kilogram pekan ini.

Abbas, kepala Bidang perdagangan, Dinas perindag Polewali mandar yang dihubungi Rabu (8/2/2012) mengakui adanya sejumlah keluhan warga yang mengadu ke perindag terkait kesulitan mereka mencari elpiji sejak beberapa pekan terakhir.

"Beberapa hari mendatang tim terpadu akan turun bersama melakukan sidag ke pangkalan dan agen2 elpiji di Polewali," ujar Abbas.

Di sepanjang jalur Trans Sulawesi di Polewali mandar mislanya sudah empat hari terakhir pengecer dan pangkalan kehabisan stok eliji hingga tak bisa melayani pelanggannya.

Sudirman, salah satu pengecer elpiji 3 kilogram di kecamatan wonomulyo mislanya mengaku sudah empat hari tidak menjual elpiji. Pelanggan yang datang mencari elpiji namun tak bisa dilayani lantaran stok di tokonya habis.

Kejadian serupa juga terjadi di kabupaten majene dan mamuju. Hampir semua pengecer dan pangkalan mengeluh karena tak bisa melayani permintaan pelanggannya.

Hamida, pedagang elpiji di Mamuju ini mengeluh karena sudah beberpa hari tak bisa berjualan elpiji, padahal puluhan pelanggannya silih berganti datang mencari elpiji. "Kita tidak tahu tiba-tiba elpiji sulit di dapat," ujar Hamida.

Sulitnya mendapatkan elpiji subsidi 3 kilogram mulai dimanfaatkan oknum tertentu termasuk pengecer dan pangkalan nakal dengan cara menaikkan harga elpiji di atas het yang ditetapkan pemerintah.

Sejumlah warga yang mengeluhkan kelangkaan elpiji berharap pemerintah serius mengatasi kelangkaan elpiji agar rakyat miskin tidak menjadi bulan-bulanan oknum yang mencari untung dengan memanfaatkan situasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau